Puisi Tentang Pemakaman Seorang Laki-laki Berselimut Bunga Kering

Di antara keheningan, di tanah yang sunyi,

Pemakaman terhampar, sepi dan memikat hati.

Di sela-sela kesedihan dan penuh haru,

Bunga-bunga kering terhampar, tak berseri.


Mereka adalah saksi bisu dari kehidupan yang pernah berbunga,

Kini layu dan rapuh, menghiasi setiap sudutnya.

Warna-warni yang dulu menggairahkan,

Kini pudar, menjadi kenangan yang melarat.


Mereka melayang dalam angin berdesir,

Menyampaikan pesan dari yang telah pergi.

Dalam setiap kelopaknya, ada cerita tersimpan,

Cerita hidup yang telah berakhir dengan hampa.


Janganlah sedih, janganlah berduka,

Bunga-bunga kering ini bukanlah simbol kehilangan belaka.

Mereka adalah pengingat akan kehidupan yang fana,

Bahwa manusia semua akan kembali ke tanah yang sama.


Biarkan mereka bergelayut di ranting-ranting,

Mengiringi doa-doa yang terucap dari bibir bergetar.

Mereka mengajarkan tentang perjalanan yang tak terhingga,

Keabadian yang terdapat di balik kegelapan yang mengemuka.


Meskipun layu dan kering, bunga-bunga itu tetaplah indah,

Seperti kenangan yang terpatri dalam hati.

Mereka mengingatkan akan kehancuran dan kejayaan,

Bahwa hidup dan kematian adalah bagian tak terpisahkan.


Tataplah pemakaman ini dengan hati yang lapang,

Dengarkan bisikan-bisikan yang terlambat terucap.

Bunga-bunga kering ini mengajarkan tentang kesucian,

Dan bahwa kehidupan adalah perjalanan yang tak pernah tuntas.

Komentar

Postingan Populer